CARA BAHAGIA ALA EPICURUS (orang yunani kuno) Konsep Hedonisme (Kebahagiaan) Epicurus

blogmerot21.xyz -  Epicureanisme, salah satu aliran filsafat pada masa Hellenisme, yang muncul pada masa Yunani ini ternyata juga sudah menawarkan konsep "bahagia" yang berbentuk Hedonisme. 

Sikap hidup yang muncul pada masa Yunani ini ternyata tidak sepenuhnya sama dengan konsep hedonisme sebagaimana masyarakat sekarang anut.

Ketika itu, filsafat yang berkembang lebih bercorak pada sifat teoritis. Hanya sebatas menawarkan konsep-konsep definitif salah satunya mengenai kebahagiaan. 

Kemudian Epicurus mencoba mengkritik hal demikian, dengan menjalani hidup berdasarkan paham hedonisme. Sikap ini tidak lagi membahas mengenai konsep definitif, namun jauh lebih berkembang ke arah "cara" mendapatkan kebahagiaan.

Epicurus menjelaskan, hedonisme akan mengarah pada kehidupan kenikmatan abadi tetapi diperoleh dengan bimbingan akal. Kontrol diri dalam memilih dan membatasi kesenangan dengan pandangan untuk mengurangi rasa sakit seminimal mungkin, sangatlah diperlukan.

Menurutnya, tujuan hidup hedone (kenikmatan) dapat dicapai dengan ataraxia, yakni ketenangan badan, pikiran, dan jiwa. Hedonisme menurut Epicurus tidak mengejar keterpenuhan akan bahagia, tetapi kenikmatan secukupnya. Bukan orang yang serakah, tetapi pilih-pilih.

Sebagai contoh apabila kita makan, maka kita hanya perlu makan secukupnya saja. Apabila kita makan secara berlebihan, itu bukan lagi bentuk kenikmatan yang dimaksud oleh Epicurus. Nikmat berbeda dengan rakus, dan rasa nikmat yang menimbulkan rasa sakit tidak perlu diambil. Dalam hidupnya, Epicurus juga hanya memakan roti dan meminum air, serta makan sedikit keju pada saat-saat berpesta. Ia mengatakan, itu sudah cukup dan ia merasakan kenikmatan.

Bagi Epicurus, berbagai keinginan untuk mencari kehormatan dan kekayaan adalah hal sia-sia. Karena manusia akan menjadi gelisah jika keinginan tersebut tidak terpenuhi.

Epicurus mengajarkan tentang hidup sederhana. Bagaimana kita dapat menyikapi keinginan-keinginan dengan tenang. Belajar mengendalikan keinginan dan pemeliharaan ketenangan jiwa. Ia beranggapan bahwa semua manusia, senantiasa hanya mengejar kenikmatannya sendiri, kadang dengan cara yang bijaksana dan terkadang dengan cara yang tidak bijaksana.

Nyatanya, ada benturan mengenai pemaknaan Hedonisme yang dikemukakan oleh Epicurus dengan konsep yang dijalankan di masa sekarang. 

Terlepas dari segala macam perbedaan itu, hidup manusia baik di masa dulu maupun sekarang, tak pernah lepas akan pencarian "kebahagiaan".

Setiap orang memiliki hak untuk mencapai bahagia dengan caranya masing-masing.

 Apapun itu, selagi tidak merugikan diri dan orang lain, maka sah-sah saja. Sebagaimana Epicurus pernah berkata, "Jangan merusak apa yang Anda miliki dengan menginginkan apa yang tidak Anda miliki. 

Ingat bahwa apa yang Anda miliki sekarang adalah satu di antara hal-hal yang hanya Anda harapkan".
Plagiarisma Protected by Copyscape peshaAcompeny