sejarah perdana mentri yang jujur dan baik seumur dan sepanjang sejarah | sejarah perdana mengkritik agamnya sendiri

blogmerot21.xyz - Perdana Menteri Yao Chong mengkritik agamanya sendiri

Yao Chong adalah negarawan pada masa Dinasti Tang yang terkenal jujur dan berintegritas. Ia seorang Budhist tapi tidak segan2 mengkritik bahkan mencela penyimpangan2 dalam agamanya sendiri. Pada jaman Tang, Buddhisme mengalami masa keemasan, banyak biara dibangun dimana2 dengan kekayaan luar biasa. Namun di saat yang sama biara seringkali dimanfaatkan untuk mereka yang mangkir pajak, wajib militer dan wajib kerja. Yao mengusulkan agar kaisar mengesahkan kebijakan untuk memperketat seleksi penerimaan seseorang menjadi biksu. Kebijakkan ini berhasil menyaring siapa yang sungguh2 ingin mengabdi pada Buddha dan siapa yang pencoleng yang berlindung di balik jubah biksu, akibatnya 12rb orang biksu yang tidak memenuhi syarat dikeluarkan dari biara, mereka dikenai denda pajak dan hukuman lainnya.

Suatu ketika terjadi serangan hama belalang di suatu daerah, namun parahnya penduduk lokal yang masih terbelakang tidak berani membasmi hama itu karena bagi mereka membunuh mahluk hidup itu dosa dan mengganggu keharmonisan alam, langit akan menghukum siapapun yang berani melanggarnya. Menghadapi pemikiran terbelakang ini, Yao terjun langsung ke tengah rakyat, menyatakan pada mereka bahwa ia bersedia menanggung segala hukuman karma bila melanggar larangan itu, sekaligus mengumumkan sayembara bahwa siapapun yang menyerahkan sekantong belalang mati ke kantor pemerintah akan ditukar dengan sekarung gandum dengan berat yang sama. Penduduk pun mulai berani berburu belalang sehingga secara bertahap serangan ini berhasil diatasi dan ancaman gagal panen dan kelaparan berhasil dicegah.

Yao juga mengecam ritual2 Buddhis (dan Taoist) yang megah dalam pemakaman orang kaya, bangsawan dan pejabat yang menurutnya adalah pemborosan sia2 dan bertentangan dengan prinsip2 kesederhanaan yang diajarkan Sang Buddha. Ritual2 seperti ini ujung2nya hanya ajang pamer kekayaan dan ajang mengeruk keuntungan pribadi bagi biksu2 mata duitan. Yao dengan jantan meletakkan jabatan ketika sebuah skandal suap yang melibatkan putra dan staffnya terkuak, ia sendiri tidak terlibat apapun dalam skandal ini namun ia menanggung beban moral karena gagal mendidik anak dan salah memilih bawahan. Kaisar membujuknya tetap menjabat namun Yao tetap memilih mundur sebagai tanggung jawabnya, sang putra dipecat dari jabatannya dan si staff dibuang ke pengasingan. Walau sudah tidak menjabat PM, ia masih sering dikunjungi oleh kaisar dan pejabat yang ingin berkonsultasi dengannya. 

Sebelum meninggal ia berpesan pada keluarganya agar pemakamannya diadakan sewajarnya saja, tidak perlu dengan ritual Buddhis yang megah.
Plagiarisma Protected by Copyscape peshaAcompeny